Minggu, 15 Januari 2012

PERKEMBANGAN DAN PATHOGENESIS DARI VIBRIO CHOLERA KLASIK, SERTA REPON IMMUN TERHADAP INFEKSINYA.........................By. Chandra URL


2.1 Gambaran Umum Vibrio cholera
V.cholera terdapat dua tipe, klasik dan El Tor, yang dibagi berdasarkan struktur dan parameter laboratorium lainnya. Masing- masing biotipe dibagi dua lagi yaitu Inaba dan Ogawa. Perbedaan V.cholerae tipe El Tor dengan kolera lain adalah resistan terhadap polimiksisin B, resistensi terhadap kolerafaga tipe IV dan menyebabkan hemolisis pada eritrosit kambing. Vibrio cholerae pertama kali diisolasi sebagai  penyebab penyakit kolera oleh seorang ahli anatomi Italia, Fillipo Pacini pada tahun 1854. Tetapi penemuannya tersebut tidak terlalu dikenal oleh dunia. Lalu baru pada tahun 1884, melalui penelitian Robert Koch dunia mengenal bakteri tersebut. Kolera berasal dari Gangga delta, suatu bagian dari distrik di India sejak tahun 1817. Sejak tahun 1917 telah terjadi tujuh pandemic besar yang penyebarannya bahkan mencapai Eropa. Vibrio yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pandemic ke-7 yaitu  V.cholerae O1, biotipe El Tor. Pandemic ke tujuh baru dimulai pada tahun 1961 ketika Vibrio pertama kali muncul menyebabkan epidemic kolera di Sulawesi, Indonesia . Penyakit ini lalu  menyebar dengan cepat ke Negara Asia timur lainnya dan mencapai Bangladesh pada tahun 1963, India pada tahun 1964 dan kawasan Soviet- Russia pada tahun 1965-1966. Pada januari 1991, epidemic kolera menyerang Amerika latin. Dimulai di Peru, penyakit ini dibawa oleh nelayan ke Ekuador dan Kolombia dan dibawa pelancong ke seluruh Amerika pusat dan Selatan. Hampir 400.000 kasus dilaporkan pada tahun pertama wabah. Angka mortalitas seluruhnya kira kira 1 persen, angka tersebut mendekati 20-30 persen masyarakat yang terjangkit yang karena kekurang- tahuan akan penyakit ini yang menyebabkan pemeriksaan teurapetik yang berlebihan.



2.2 Perkembangan Terbaru V. cholera (Klasik ctxB dalam Vibrio cholerae O1)

Vibrio cholerae strain-O1 dapat dipecah menjadi 2 biotipe klasik dan El Tor, biotipe ini berdasarkan perbedaan fenotipik beberapa (Tabel - 1). Juga Vibrio cholerae O1 adalah sub-dibagi menjadi 3 serotipe Ogawa, Inaba dan Hikojima.
Tabel 1. Fitur utama dari Vibrio cholera biotipe - O1
Karakter
Klasik
El Tor
Hemolisis domba RBC
-
+
Voges proskauer (VP) tes
Lemah atau negative
+
Kerentanan terhadap polimiksin B (50IU)
+
-
Lisis oleh bakteriofag klasik IV
+
-

Hal di atas menunjukkan perbedaan mendasar dari biotipe klasik dan El Tor. Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak ilmuwan yang terus memantau perkembangan V. cholera. Di antara 206 serogrup Vibrio cholerae, O1 dan O139 yang berhubungan dengan epidemi kolera. Serogrup O1 diklasifikasikan menjadi 2 biotipe, klasik dan El Tor. Secara konvensional, 2 biotipe dapat dibedakan berdasarkan seperangkat sifat fenotipik. Analisis genomik komparatif telah menunjukkan variasi dalam gen yang berbeda antara biotipe. Toksin kolera (CT), toksin utama yang bertanggung jawab untuk penyakit kolera, memiliki 2 epitypes atau bentuk imunologi, CT1 dan CT2. Klasifikasi lain mengakui 3 genotipe berdasarkan urutan gen variasi ctxB. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul bentuk baru dari V. cholerae O1, yang memiliki ciri-ciri dari kedua klasik dan El Tor biotipe, telah diisolasi di Bangladesh, Mozambik, Vietnam, Hong Kong, Jepang, dan Zambia.
Berdasarkan penelitian yang diilakukan di Kolkata India, Strain diperiksa dengan uji mutasi ketidaksesuaian amplifikasi (MAMA) berbasis PCR untuk mendeteksi alel ctxB; primer digunakan untuk 2 alel, FW-Com (5'-ACTATCTTCAGCATATGCACATGG-3'); dan 2 alel spesifik primer, Re-CLA (5'-CCTGGTACtTTCTACTTGAAACG-3') dan Re-elt (5'-CCTGGTACTTCTACTTGAAACA-3'), masing-masing digunakan untuk biotipe klasik dan Tor El.
Hasil MAMA-PCR menunjukkan bahwa sejak tahun 1995 jenis klasik telah sepenuhnya menggantikan jenis ctxB El Tor. Urutan asam amino disimpulkan selaras dengan urutan CtxB strain referensi N16961 (El Tor) dan O395 (klasik). Urutan asam amino menyimpulkan dari semua 25 strain yang diuji identik dengan strain referensi klasik; histidin berada di posisi 39 dan treonin berada di posisi 68. Dengan demikian, hasil dari sekuensing DNA dari gen ctxB dikonfirmasi MAMA-PCR dengan baik.
Hasil ini menunjukkan peristiwa yang patut dicatat dalam evolusi terakhir strains V. cholerae. Analisis ctxB yang telah beredar di Kolkata selama 17 tahun (1989-2005) menunjukkan bahwa pada tahun 1989 hanya alel El Tor yang terdapat ctxB. Hasil kami lebih lanjut menunjukkan bahwa jenis ctxB klasik muncul pada tahun 1990, meskipun El Tor jenis ctxB masih hadir dalam jumlah yang hampir sama selama tahun itu. Selama tahun 1991, sebuah peristiwa unik terjadi ketika jenis klasik menjadi dominan, bersama dengan strain yang memiliki keduanya yakni klasik dan El Tor jenis ctxB. Pada tahun 1994, isolasi strain El Tor dengan ctxB menjadi langka, dan alel ctxB utama adalah dari jenis klasik.  Strain V. cholerae O1 dari tahun 1995 dan seterusnya ditemukan hanya membawa ctxB jenis klasik, yang benar-benar menggantikan El Tor tipe alel ctxB.
Penggantian jenis El Tor ctxB oleh alel klasik telah dilaporkan di Bangladesh sejak 2001, yang tampaknya telah terjadi sebelumnya di Kolkata. Perubahan ini didorong oleh tekanan selektif untuk bertahan hidup dan beradaptasi lebih baik di usus host. Mengingat peningkatan prevalensi global kolera, asal dan penyebaran varian baru dari V. cholerae strain harus dilacak dalam populasi dengan analisis genom.

2.3 Pathogenesis V. cholera
Dalam keadaan ilmiah, Vibrio cholerae hanya pathogen terhadap manusia. Seseorang yang memiliki asam lambung yang normal memerlukan menelan sebanyak 1010 atau lebih Vibrio cholerae dalam air agar dapat menginfeksi, sebab kuman ini sangat sensitif terhadap suasana asam. Jika mediatornya makanan sebanyak 102 – 104 organisme yang diperlukan, karena kapasitas buffer yang cukup dari makanan. Beberapa pengobatan dan keadaan yang dapat menurunkan kadar asam di lambung membuat seseorang lebih sensitive terhadap infeksi Vibrio cholerae.
·         Enterotoksin
Enterotoksin adalah suatu protein,dengan berat molekul 84.000 dalton tahan panas tetapi tidak tahan asam. Resisten terhadap tripsin tetapi dirusak oleh protease. Toksin kolera mengandung dua sub unit yaitu B (binding) dan A (active). Sub unit B mengandung lima  polipeptida, diman masing- masing molekul memiliki aktivitas ADP ribosyltransferase dan menyebabkan transfer ADP ribose dari NAD ke sebuah guanosine triphospate, binding protein yang mengatur aktivitas adenilat siklase  yang menakibatkan produksi cAMP yang menghambat absorpsi NaCl dan merangsang ekskresi klorida, yang menyebabkan hilangnya air,NaCl, Kalium dan Bikarbonat.
·         Perlekatan (adheren)
Vibrio cholerae tidak bersifat invasive, kuman ini tidak masuk dalam aliran darah tetapi tetap berada dalam saluran usus. Vibrio cholerae yang virulen harus menempel pada mikrovili permukaan sel epitel usus  baru menimbulkan keadaan patogen. Disana mereka melepaskan toksin kolera (enterotoksin). Toksin kolera diserap di permukaan  gangliosida sel epitel dan merangsang hipersekresi air dan klorida dan menghambat absorpsi natrium. Akibatnya kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Secara histology, usus tetap normal.

2.4 Immunitas terhadap V. cholera
Immunitas terhadap ifeksi V. cholera sangat kompleks. Manusia menghasilkan immunoglobulin vibriosid dalam sirkulasi maupun IgA sekretori local terhadap bakteri, juga antibody terhadap enterotoksin. Walaupun antibodi dalam sirkulasi dapat dengan mudah keluar mukosa dan masuk saluran gastrointestinal, mungki antibody ini tidak tahan digesti enzimatis. Dalam usus halus, IgA sekretori timbul segera sesudah rangsangan antigenic dan diduga berfungsi mencegah perlekatan toksin pada mukosadan mengahambat replikasi vibrio. Walaupun IgA sekretori resisten terhadap digesti enzimatis, ia dapat bertahan selama masa yang relatif pendek sesudah rangsangan antigenik. Vaksin yang berisi kholeragen subunit B yang dimurnikan telah dikembangkan. Vaksin ini merupakan tooksoid yang efektif, dan merangsang antibodi untuk mencegah toksin lengkap yang melekat pada usus. Imunisasi oral dengan vaksin subunit B bersama dengan organisme mati merangsang respon IgA sekretori dan proteksi. 

Referensi:
Dziejman M , Balon E , Byod D , Fraser CM , Heidelberg JF , Mekalanos JJ . Comparative genomic analysis of Vibrio cholerae genes that correlate with cholera endemic and pandemic diseases. Proc Natl Acad Sci USA . 2002 ; 99 : 1556 – 61 . [PubMed]

Finkelstein RA , Burks F , Zupan A , Dallas WS , Jacob CO , Ludwig DS . Epitopes of the cholera family of enterotoxins. Rev Infect Dis . 1987 ; 9 : 544 – 61 . [PubMed]

Jawetz et al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Edidi 20 Penerbit Buku Kedokteran

Stanford et al. 1994. Dasar Biologis dan Klinis Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University

All Truth is GOD’s Truth…………………


SEGALA KEBENARAN ADALAH KEBENARAN ALLAH (by Arthur F. Holmes)………….Tinjauan Chandra URL

Buku ini memaparkan bahwa segala kebenaran, dimana pun ditemukan berasal dari Allah dan menjadi saksi bagiNYA. Dan buku ini mengarahkan kita untuk kembali kepada wawasan dunia yang alkitabiah.
Banyak orang kini memisahakan wawasan dunia seperti studi akademis dan berbagai bidang keilmuan bahkan bidang professional kerja dari hal2 rohani. Bahkan ada juga orang Kristen yang memandang wawasan dunia adalah sebagai sesuatu hal yang rendah dibandingkan hal2/kegiatan rohani. Sebaliknya kita dipanggil untuk melaksanakan semua bidang professional kita yaitu sebagai pengabdian kepada Tuhan yang adalah sumber segala kebenaran, dimana itu semua bisa terjadi ketika kita menggakui Ketuhanan Kristus dalam seluruh kehidupan kita.
Buku ini menjelaskan banyak hal tentang iman dan rasio, dan suatu panggilan untuk menempatkan keyakinan intelektual kita di dalam Allah yang telah menyatakan diriNYA di dalam Yesus Kristus.
Banyak hal yang dibahas dalam buku ini mulai dari konsep mengenai kebenaran, rasio manusia sebagai sarana untuk menemukan kebenaran, dan berbagai hal yang mengarahkan kita untuk memahami bahwa hanya ada satu sumber kebenaran yaitu Kristus.
Satu hal yang saya dapat mengerti secara sederhana dari buku ini, yaitu kini banyak orang yang menggeser suatu hal yang sebenarnya tidak layak atau tidak patut dilakukan menjadi benar dilakukan, yang walaupun secara rasio/pemikirannya mereka sangat2 tahu bahwa itu salah atau tidak benar. Contoh: menyontek, memberitahukan jawaban pada saat ujian, dan sejenisnya kepada teman pada saat ujian; yg sebenarnya seluruh dunia sdh tahu kalau memang itu salah…… Hhhhmmmmmmmmmmm…..
All Truth is GOD’s Truth…………………

Sabtu, 14 Januari 2012

PENGENDALIAN MYASIS..............................By. Chandra URL


Ø  PENGOBATAN MYASIS PADA HEWAN
Myasis pada hewan terjadi pada daerah-daerah tertentu di Indonesia (daerah endemis), seperti Sulawesi, Sumba Timur, Pulau Lombok, Sumbawa, Papua dan beberapa daerah di Jawa. Penganganan Myasis pada hewan ternak pun seringkali bervariasi dijalakan sesuai dengan daerah dimana ditemukan kasus myasis. Misalnya di Sumba Timur pernah dilakukan pengobatan pada hewan yang terkena myasis dengan menggunakan karbamat (MIPCIN 50 WP) dan Echon. Kedua preparat ini cukup berbahaya karena merupakan insektisida sistemik sehingga banyak dilaporkan adanya keracunan pada ternak pascapengobatan. Masyarakat setempat pun sering menggunakan ramuann trradisional seperti tembakau, batu baterai yang dicampur dengan oli, yang selanjutnya dioleskan pada luka. Pengobatann ini bertujuan uuntuk mengeluarkan larva dari luka, namun bisa berakibat iritasi pada kulit (Wardhana et al, 2003).
Pengendalian kejadian myiasis di PT BULI, Makassar dilakukan dengan cara melakukan perendaman (dipping) rutin dua kali seminggu dengan mencampur 6 liter Ecoflee® dengan 3 m3 air. Larutan ini dapat digunakan selama 1,5 tahun dan dilaporkan cukup efektif untuk pengendalian penyakit myiasis . Berbagai preparat telah dicoba untuk mengobati ternak yang menderita myiasis yaitu asuntol, lezinon, rifcord 505 dan campuuan kapur, bensin serta vaselin . Ramuan yang dilaporkan cukup efektif untuk pengobatan myiasis di PT BULI yaitu campuran dari 50 g yodium, 200 ml alkohol 75% dan 5 ml Ecoflee° yang selanjutnya ditambah air hingga satu liter. Ramuan ini langsung disemprotkan pada luka yang mengandung larva sehingga larva keluar dan luka menjadi mengecil. Pengobatan ini dilakukan dua kali dalam seminggu dan digunakan hingga sekarang (Wardhana et al, 2003).
Para dokter hewan umumnya menggunnakan menggunakan Gusanex untuk mengobati myiasis, namun obat ini telah jarang dijumpai. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Indonesia dalam menciptakan ramuan yang tentunya efektif dalam pengobatan myasis pada hewan. Wardhana et al (2004) dan Muharsini et al (2004) mengembangkan insektisida botanis dari biji srikaya dan mindi, sedangkan Muharsini et al (2003) memanfaatkan Bacillus thuringiensis untuk dijadikan bioinsektisida. Beberapa minyak atsiri, seperti minyak atsiri nilam dan akar wangi juga telah dicoba secara in vitro sebagai insektisida botanis dan terbukti mampu mematikan larva C. bezziana.


Ø  PENGOBATAN MYASIS PADA MANUSIA
Pengobatan myasis pada manusia pun bervariasi. Pada kasus manusia sebaiknnya si pasien dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan secara lokal maupun sistemik.  Pengobatan sistemik dimaksudkan untuk mengobati infeksi sekunder yang menyertai myiasis
Sperti infeksi bakteri dann lain sebagainya, yaitu dengan pemberian antibiotic berspektrum luas atau antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur bakteri yang berasal dari luka myiasis dan
resistensi kuman . Pengobatan lokal dilakukan dengan menggunakan kloroform dan minyak turpentin (1 : 4) yang dilanjutkan dengan pengambilan larva secara manual menggunakan pinset. Penderita akan bersih dari larva dalam waktu dua hingga tiga hari dan diijinkan meninggalkan rumah sakit dalam waktu lima sampai tujuh hari (Mangunkusumo dan Utama,
1999). Kumarasinghe et al (2000) 'melaporkan pengobatan pasien myiasis di Sri Lanka menggunakan mineral turpentin.
Minyak atsiri daun sirih berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat myiasis pada manusia. Efek larvasidal minyak atsiri ini telah diuji secara in vitro pada larva C. megachepala dan C. bezziana dengan hasil yang memuaskan (Kumarasinghe et al, 2002 ; Wardhana, unpublished). Uji in vivo pendahuluan pada domba menggunakan krim minyak atsiri daun sirih menunjukkan hasil cukup memaaskan, yaitu mampu menurunkan bobot larva sampai 40% dan menghasilkan bobot pupa di bawah normal sehingga tidak mampu menetas menjadi imago. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji lanjutan dengan menguji berbagai macam sediaan yang berbeda dengan bahan pembawa yang berbeda, misalkan pembuatan formula salep, formula spray (semprotan) dan lainnya (Wardhana, unpublished). Disamping bersifat larvasidal, minyak atsiri daun sirih mempunyai sifat antibakterial yang khasiatnya lima kali lipat dibandingkan dengan fenol biasa.

Ø  PENURUNAN POPULASI LALAT
Populasi lalat sebagai penyebab myasis sangat tergantung pada kondisi ekologi. Daerah yang memiliki pepohonan, semak-semak dan sungai merupakan tempat ideal untuk kelangsungan hidup lalat-lalat penyebab myiasis. Pengendalian populasi C. bezziana tidak mungkin diarahkan dengan melakukan penebangan hutan atau pembakaran semak-semak, karena akan mengganggu ekosistem lainnya. Sejauh ini, berbagai upaya pengendalian dan pemberantasan C. bezziana telah banyak dilakukan. Penggunaan insektisida atau pestisida dilaporkan kurang efektif untuk mengurangi populasi lalat ini (Partoutomo, 2000). Pembuatan vaksin rekombinan yang diekspresikan ke dalam Escherichia coli juga tidak mampu memberikan tanggap kebal yang protektif (Sukarsih et al, 2000; Wijffels et al, 2000; Voucolo et al, 2000). Metode Sterile Insect Technique (SIT) dan pengembangan pemikat lalat (attraktan) juga masih dilakukan dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan (Spradbery et a., 1983 ; Urech et al, 2001).
Menurut Snow et al, (1982) bahwa efektivitas SIT dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi jumlah populasi lalat dewasa, terutama ketika populasi lalat ini mengalami peningkatan di alam . Salah satu metode yang dilakukan adalah Screwworm Adult Suppresion System (SWASS) yaitu mengkombinasikan penggunaan umpan (bait), perangsang pakan (feeding stimulant) yang terdiri dari campuran tepung darah, gula dan bongkol jagung dan insektisida yang dibentuk menjadi pelet kemudian disebar dengan pesawat (Coppedge et al, 1980) . Metode lainnya disebut dengan nama bait station yaitu penggunaan elemen yang sama dengan SWASS dalam suatu alat yang permanen kemudian
diletakkan di atas tanah (Coppedge et al, 1981). Kedua metode di atas menggunakan campuran pemikat sintetik swormlure (SL-2) (Jones et al, 1976; Coppedge et al, 1977) dengan insektisida dichlorovos . SWASS dilaporkan cukup berhasil untuk mengurangi populasi lalat dan menurunkan jumlah kasus myiasis di USA dan Mexico. Kelemahan metode ini adalah kurang efektif untuk daerah yang lembab, daerah yang banyak mempunyai saluran air dan hanya bertahan 3 - 5 hari (Snow et al, 1982).
Steril Insect Technique (SIT), yaitu pelepasan lalat jantan yang disterilisasi dengan teknik radiasi dan telah dikembangkan sejak tahun 1950 oleh Knipling dan dilaporkan cukup efektif (Glanville, 2002; Whitten, 2002). Roehrdanz dan Johnson (1988) berpendapat bahwa di dalam program kontrol biologis seperti SIT, keberhasilannya sangat tergantung pada pemahaman yang jelas tentang keragaman genetik yang ada di dalam populasi tersebut. Apabila dalam suatu populasi hama insekta diketahui terjadi sibling maka program metode SIT tidak dapat dilaksanakan karena harus mempersiapkan begitu banyak koloni insekta dari berbagai daerah untuk diradiasi.
Selama ini keragaman genetik di dalam populasi C. bezziana masih menjadi pertentangan di kalangan peneliti. Spradbery (1991) menuliskan hasil analisis morfologi bahwa C. bezziana di dunia dibagi menjadi tiga ras yaitu ras Afrika, Arab dan Asia Tenggara. Hasil ini bertentangan dengan Brown et al, (1992) dan Brown et al, (1998) yang menyimpulkan bahwa C. bezziana merupakan spesies tunggal berdasarkan analisis hidrokarbon kutikular sedangkan analisis isoenzim dan sitologi menunjukkan tidak adanya sibling species dalam populasi C. bezziana (Strong dan Mahon, 1991 ; BEDO et al, 1994). Berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya, Hall et al, (2001) menguji keragaman populasi C. bezziana yang berasal dari sebelas negara berdasarkan gen sitokrom b (279 pb) dengan primer CB3FC -NINFA serta morfologi kepala, tubuh dan sayap. Data yang diperoleh berdasarkan analisis filogenetik mengindikasikan adanya dua ras C. bezziana di dunia, yaitu ras sub-Saharan Afrika dan ras Asia termasuk kawasan Teluk. Wardhana et al, (2004) melaporkan bahwa populasi lalat C. bezziana yang ada di Indonesia secara genetik berbeda dengan populasi lalat di Asia, namun lalat di Sulawesi Selatan identik dengan populasi Papua New Guinea. Hasil yang menarik terjadi pada populasi di Sumba Timur karena di dalam satu wilayah mempunyai dua populasi yang secara genetik berbeda (Wardhana et al, 2004). Analisis mitokondria DNA masih dalam penelitian yang diarahkan pada populasi lalat di Pulau Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Papua dan Sumatera (Wardhana, unpublished).
Adanya perbedaan pendapat ini masih perlu diluruskan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengendalikan populasi lalat C. bezziana di lapang. Oleh karena itu, International Atomic Energy Agency (IAEA) menghimpun peneliti-peneliti entomologi dan biologi molekuler baik peneliti lalat Cochliomyia hominivorae maupun C. bezziana di dunia untuk bekerjasama dalam upaya pengendalian populasi lalat-lalat tersebut menggunakan SIT.
Langkah pengendalian yang lain adalah pembuatan pen-Rat lalat (attractant). Penelitian tentang pemikat lalat myiasis telah dilakukan sebelum tahun 1970-an dengan tujuan untuk mengganti hati sapi yang secara tradisional mampu memikat lalat jantan. De Vaney et al (1973) melaporkan bahwa formula pemikat yang terbuat dari darah sapi yang terkontaminasi dengan bakteri, darah steril yang diinokulasi dengan bakteri, darah yang mengalami defibrinasi dan plasma darah mempunyai respon yang cukup tinggi terhadap lalat C. hominivorax. Grabbe dan Turner (1973) berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa fenol, p-cresol dan indol sebagai komponen utama yang terdapat dalam sediaan darah tersebut. Hasil ini didukung oleh Jones et al. (1976) yang mendapatkan respon lalat yang cukup tinggi ketika ketiga senyawa tersebut dicampurkan, tetapi menjadi sangat rendah apabila diuji dalam bentuk tunggal. Berdasarkan hasil isolasi Grabbe dan Turner (1973) maka Jones et al (1976) mengembangkan suatu pemikat sintetik untuk lalat C. hominivorax yang diberi nama swormlure. Coppedge et al (1977) meningkatkan daya pikat swormlure dengan cara mengurangi proporsi komponen-komponennya dan menambahkan dimetil disulfida (DMDS). Formula baru ini diberi nama swormlure 2 (SL-2) dan dilaporkan mampu menekan populasi C. hominivorax di lapang dengan metode Screwworm Adult Suppresion System (SWASS) (Coppedge et al, 1980) . Metode ini hanya efektif untuk daerah kering dan kurang efektif untuk daerah yang lembab (Snow et al, 1982). Pemikat SL-2 juga pernah diuji oleh Sprabery (1979) untuk memonitor lalat C. bezziana di Papua New Guinea tetapi lalat yang tertangkap dilaporkan kurang dari 1%. Formula terbaru dikembangkan oleh Mackley dan Brown (1984) sehingga diperoleh swormlure 4 (SL-4) dan cukup selektif dalam menangkap lalat C. hominivorax (Warnes dan Green, 1992) . Wardhana dan Sukarsih (2004)
mengembangkan suatu metode untuk menguji daya pikat SL-2 baik pada kondisi laboratorium maupun semi lapang. Beberapa kandidat pemikat diuji menggunakan metode tersebut sebelum diuji di lapangan. Meskipun, analisis senyawa volatil dari luka myiasis untuk pembuatan pemikat juga masih belum memberikan hasil yang optimal (Wardhana et al, 2005), dua formula baru telah berhasil ditemukan dan terbukti mempunyai efek yang sama dengan SL-2 (Wardhana et al, 2005). Keuntungannya formula baru ini adalah komposisi bahan kimia yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan dengan SL-2. Secara tradisional pemikat yang digunakan untuk memonitor populasi lalat screwworm adalah gerusan hati. Meskipun SL-2 mampu memikat lalat C. bezziana lebih banyak tetapi hati sapi segar dapat digunakan sebagai pemikat alternatif oleh peternak-peternak tradisional di pedesaan atau pada daerah-daerah yang tidak memungkinkan tersedianya SL-2 (Wardhana dan Sukarsih, 2004)

Ø  Pengawasan Lalulintas Ternak
Taylor et al. (1996) berpendapat bahwa pemasukan dan pemindahan ternak dari satu daerah ke daerah lain dapat menjadi jembatan penyebaran lalat penyebab myiasis. Laporan lain juga menyebutkan bahwa manusia diduga menjadi sarana penyebaran lalat C. hezziana dari lokasi geografisnya. Pendapat di atas didukung oleh kejadian myiasis di sungai Mississippi. Seperti yang dituliskan oleh Wyss (2000) bahwa Wartazoa Vol 16 No . 3 Th. 2006 sebelum tahun 1933 tidak pernah dilaporkan adanya kasus myiasis di sungai Mississippi, namun setelah adanya kiriman sapi yang terinfeksi ke Georgia pada Juli 1933 maka kasus myiasis tersebar dengan cepat di daerah sekitar sungai ini, bahkan sampai mencapai Florida Selatan. Para peternak melaporkan adanya peningkatan jumlah ternak yang mati, kebutuhan insektisida, obat-obatan hewan dan penurunan berat badan serta produksi susu akibat serangan lalat screwworm. Kondisi yang sama juga diinformasikan oleh Roehrdanz dan Johnson (1988) yang menuliskan bahwa kasus myiasis tidak pernah dilaporkan di Bahamas sampai tahun 1943. Wabah myiasis baru terjadi ketika mendatangkan kambing dari Kuba ke daerah Bahamas. Bukti lain adalah hasil analisis DNA mitokondria yang dilakukan oleh Wardhana et al. (2004) terhadap populasi lalat C. bezziana di Sidrap-Makassar. Hasil ini memberi kesan bahwa di daerah Makassar terdapat populasi lalat yang identik dengan populasi Papua New Guinea atau populasi lalat Papua New Guinea merupakan bagian dari populasi lalat yang berasal dari Makassar. Dugaan ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui apakah populasi lalat dari Makassar berasal dari Papua New Guinea atau sebaliknya . Penyebaran populasi tersebut diduga karena adanya transportasi ternak yang terjadi pada masa lampau atau sekarang. Ternak yang menderita myiasis atau mengandung larva C. bezziana pada masa itu terbawa ke lokasi penjualan ternak. Sepanjang perjalanan menuju daerah, larva yang sudah matang berpotensi untuk jatuh ke tanah, membuat terowongan kecil dan menjadi pupa kemudian berkembang menjadi lalat dewasa . Peristiwa-peristiwa di atas dapat dijadikan bukti bahwa kiriman ternak dari daerah satu ke daerah yang lain sangat memungkinkan menjadi media penyebaran lalat C. bezziana antar pulau di Indonesia atau antar negara di dunia . Oleh karena itu, langkah-langkah pengendalian tersebut perlu ditindaklanjuti dan dilakukan dengan serius sehingga kasus myiasis pada ternak maupun manusia dapat diminimalkan .


Referensi

Partoutomo, S. 2000. Epidemiologi dan pengendalian myiasis di Indonesia. Wartazoa

Muharsini, S ., A.H. Wardhana, Habib dan A. Bahagiawati . 2003 . Karakterisasi isolat Bacillus
thuringiensis dari beberapa daerah Jawa dan Sulawesi Selatan untuk kontro1 biologi lalat Myasis Chrysomya bezziana . JITV 8(4) : 256 - 263

Wardhana, A.H., S. Muharsini dan W. Asmara. 2004. Keragaman genetik populasi lalat myasis Chrysomya bezziana di Indonesia berdasarkan analisis DNA mitokondria. JITV 9(2): 108 - 114.

WARDHANA, A.H., SUKARSIH dan R. URECH. 2005a. Identifikasi senyawa volatil dari luka myasis dan responnya terhadap lalat Chrysomya bezziana . JITV 10(1): 41 - 50.



PATHOGENESIS DAN IMMUNOLOGI BALAMUTHIA MANDRILLARIS......................................By. Chandra URL


2.1 Gambaran Umum Balamuthia mandrillaris
2.1.1 Struktur dan Siklus hidup Balamuthia mandrillaris
Balamuthia mandrillaris memiliki dua tahap dalam pertumbuhan dan perkembangannya yakni tahap trophozoite vegetatif dan tahap kista dorman. Memilki ukuran diameter 15-60 μm serta memiliki struktur percabangan yang tidak teratur. Balamuthia mandrillaris sebagai sel eukariotik memiliki nukleeus dengan nukleolus yang mengkin lebih dari satu. Selnya juga terdiri atas mitokondria, retikulum endoplasma dan ribosom. Pada tahap Protozoite yang berlangsung secara aseksual, terjadi pembelahan biner (mitosis) dimana inti dan nukleolus membelah membentuk sel anak. Apabila dalam kondisi lingkungan yang ekstrim seperti kurangnya nutrisi, pH dan suhu yang buruk; tropozoite akan akan berubah menjadi kista melalui proses encystment. Encystment menjamin kelangsungan hidup organisme di bawah kondisi lingkungan yang ekstrim. Kista cenderung memiliki ukuran yang lebih kecil yakni 13-30 μm serta memiliki bentuk yang bulat. Kista ini terdiri atas tiga dinding, dengan dinding luar tipis yang tidak teratur dikenal sebagai ectocyst, lapisan menengah urat saraf yang dikenal sebagai mesocyst, serta didning baggian dalam tebal yang disebut endocyst. Dalam kondisi yang menguntungkan, yaitu, ketersediaan nutrisi, pH netral, dan suhu moderat (30 sampai 37 ° C), kista berdiferensiasi menjadi bentuk trophozoite melalui proses yang dikenal dengan excystment. Bentuk tropozoite maupun kista dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan dan jaringan kulit yang luka.
2.1.2 Balamuthia amuba ensefalitis (BAE)
BAE merupakan peyakit kronis yang berlangsung 3 bulan sampai 2 tahun, dimana hampir semua kasusnya berakibat fatal atau berujung pada kematian. Ciri spesifik yang ditimbulkan adalah terjadinya ensefalitis pada sistem saraf pusat. Berbeda dengan ensefalitis yang ditimbulkan oleh Acanthamoeba, BAE ditemukan juga pada individu yang imunokompeten (individu yang negatif untuk sifilis, DM, infeksi jamur, HIV, dan infeksi mikobakteri serta memiliki CD4 maupun CD8 yang normal). Namun, infeksi ini memang lebih rentan bagi mereka yang menderita DM atau kanker,  HIV, narkoba dan pecandu alkohol, dan pasien yang mengalami pengobatan steroid, radioterapi, kemoterapi antimikroba yang berlebihan, atau transplantasi organ. Dominasi kasus terjadi pada yang muda (di bawah 15 tahun) dan manula (di atas 60 tahun), yang mungkin disebabkan karena kekebalan tubuh yang agak lemah. Lebih dari 100 kasus di seluruh dunia dilaporkan; 34 kasus telah didokumentasikan di Amerika Latin yakni Peru (24 kasus), Argentina (4 kasus), Brazil (1 kasus), Meksiko (4 kasus), dan Venezuela (1 kasus). Sedangkan jumlah kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat adalah sekitar 30 kasus. Selain itu, BAE juga telah dilaporkan di Asia yakni Jepang (2 kasus), Thailand (1 kasus), Australia (8 kasus); dan juga di Eropa yakni Republik Ceko (1 kasus), Portugal (1 kasus), dan Inggris (1 kasus). Lalu bagaimana dengan Indonesia? Jumlah pasti kasus BAE di dunia tidak diketahui karena kurangnya kesadaran pada minimnya diagnosis, sistem kesehatan masyarakat yang kurang baik, terutama di negara berkembang. Kombinasi obat yang digunakan pun masih terbatas, dan tentunya sangat mengkhawatirkan. BAE pun tidak hanya terbatas pada manusia, namun juga dapat menginfeksi mamalia lain seperti babun mandrill, monyet, owa, gorila, domba, anjing, dan kuda.

2.2 Pathogenesis Balamuthia mandrillaris/BAE
Patogenesis penyakit mengacu pada kemampuan parasit untuk membawa penyakit dan menimbulkan gejala-gejala tertentu. Rute masuk Balamuthia mandrillaris adalah melalui saluran pernapasan dan kulit (masuk melalui luka di kulit diikuti oleh paparan tanah yang terkontaminasi, misalnya bekerja di kebun), setelah itu berinvasi ke intravaskuler. Penyebarran hematogenlah yang dianggap menjadi langkah kunci dalam BAE, namun belum diketahui secara pasti bagaimana Balamuthia mandrillaris dapat beredar pada blood-brain barrier (BBB) yang bersifat selektif lalu masuk ke sistem saraf pusat (SSP) hingga menimbulkan penyakit. Dalam darah, Balamuthia mandrillaris berhadapan dengan sistem kekebalan tubuh yang melibatkan leukosit, makrofag, neutrofil, dan jalur komplemen. Selain itu, terdapat antibodi terhadap Balamuthia mandrillaris pada populasi yang sehat, dengan tingkat sampai titer 1:256 dalam serum manusia. Namun, telah dibuktikan bahwa meskipun kehadiran sistem kekebalan tubuh yang sangat efisien, Balamuthia mandrillaris dapat menghasilkan infeksi pada individu imunokompeten. Kemampuan untuk meleawati BBB memang dianggap sebagai langkah penting yang dibutuhkan oleh banyak patogen SSP. Pertama kali diamati pada tahun 1885, BBB merupakan hambatan sangat selektif yang membatasi masuknya racun / patogen ke dalam SSP karena adanya seleksi yang ketat. BBB demikian penting dalam patogenesis penyakit SSP ketika gagal untuk mencegah patogen melalui mekanisme selektif. BBB menyeleksi darah yang menuju SSP. Terdapat komponen sel-sel lainyang merupakan BBB yang selektif yakni Pericytes dan Astrosit. Pericytes adalah sel nonneural yang berfungsi untuk mengatur aliran darah kapiler, sedangkan Astrosit berfungsi untuk mengatur jalur sinyal di endotel dan juga terkait dengan resistensi transendothelial. Pericytes dan astrosit dikelilingi oleh lamina basal, di mana terletak matriks ekstraseluler. Secara khusus,  terrdapat sambungan ketat yang unik dalam memberikan resistensi endotel tinggi antara 1.000 sampai 2.000 Ω per cm2 di otak, yang jauh lebih tinggi dari sel endotel yang lain, yang biasanya kurang dari 20 Ω per cm2. Terdapat pula dua molekul transmembran yakni occludin dan claudin, yang berinteraksi dengan komponen-komponen lainnya pada sel endotel yang berdekatan. Ekor sitoplasmik protein ini berinteraksi dengan sitoskeleton aktin melalui sejumlah protein aksesori, termasuk membran zonula (ZO) protein occluden. Terlihat bahwa sangat ketat segel persimpangan BBB, sehingga kedap racun dan molekul besar lainnya (> 700 Da). Namun, yang menjadi pertanyaan mengapa Balamuthia mandrillaris dapat menembus dan sampai pada SSP? Diduga terdapat tiga mekannisme yang mungkin dapat dilakukan Balamuthia mandrillaris untuk melintasi BBB. Yang pertama melibatkan reseptor yang dimediasi transportasi yakni mekanisme kontak-tergantung, dimana Balamuthia mandrillaris melekat pada sel endotel melalui adhesin. Dalam protozoa terkait, misalnya, Acanthamoeba, manosa binding protein adalah adhesion yang terlibat dalam interaksi dengan BBB. Mekanisme kedua mungkin melibatkan rute paracellular, dimana Balamuthia mandrillaris melintasi BBB dengan melewati antara sel-sel endotel di persimpangan yang ketat. Yang ketiga melibatkan penyeberang langsung dengan menghasilkan kerusakan endotel. Mengingat ukuran Balamuthia mandrillaris (15-65 µM), mekanisme menyeberang paling mungkin terjadi.

2.3 Immunologi dan komponen Balamuthia mandrillaris
·         Respon Inflammasi terhadap Balamuthia mandrillaris
Balamuthia mandrillaris menginduksi interleukin-6 (IL-6) yang memainkan peran dalam melewati blood-brain barrier (BBB) dan mencapai SSP serta mengakibatkan ensefalitis. Temuan ini signifikan dimana IL-6 memainkan peranan penting dalam pathogenesis dari sejumlah infeksi SSP. Sebagai contoh, IL-6 telah ditemukan dalam melemahkan peradangan meningitis pada model tikus dari infeksi bakteri pneumokokus. IL-6 mengikat reseptor permukaan sel kompleks dan meningkatkan permeabilitas BBB oleh molekul adhesi ekspresi modulasi.
·         Adhesi Balamuthia mandrillaris terhadap BBB
Balamuthia mandrillaris menghasilkan sitotoksisitas HBMC yang dapat mengakibatkan gangguan pada BBB. Namun, mekanisme molekuler yang mendasari terkait dengan amuba traversal dari BBB mengarah ke fitur patologis tetap tidak jelas. Adhesi merupakan langkah utama dalam transmigrasi Balamuthia mandrillaris dari HBMEC tersebut.
·         Fagositosis
Pembunuhan cepat dan efisien terhadap sel inang oleh Balamuthia mandrillaris menunjukkan keterlibatan mekanisme membunuh aktif. Hal ini mengakibatkan gangguan jalur sinyal intraselular inang, sekresi toksin, dan kemampuan fagositosis sel inang, akhirnya menyebabkan kematian sel.
·         Ecto-ATPase
Kemampuan Balamuthia mandrillaris menghidrolisis ATP mungkin memiliki peran dalam biologi dan pathogenesisnya. Kemampuan menghidrolisis ATP ini dikarenakan Balamuthia mandrillaris memiliki sebuah ecto-ATPase dengan massa molekul >595 kDa yang mampu mengendalikan ATP sel inang.
·         Protease
Selama masuk ke dalam SSP dari lesi kulit primer atau epitel hidung, Balamuthia mandrillaris bergabung dengan molecules of the host extracellular matrix (ECM), termasuk komponen dari lamina basal. Dalam otak yang sehat, ECM terdiri dari sebagian besar  volume otak normal yang membentuk lamina basal di sekitar pembuluh darah. ECM ini terus direnovasi dan memberikan dukungan struktural dan fungsional kritis, serta mempertahankan homeostasis pada jaringan saraf. Namun, ECM dapat mengalami modifikasi substansial mengakibatkan tanggapan neuroinflammatory. Degradasi ECM berlebihan mempengaruhi sifat struktural / fungsional neurovaskular yang sangat merusak fungsi SSP.
·         Respon Immun Tubuh terhadap Balamuthia mandrillaris
Antibodi Balamuthia mandrillaris yakni imunoglobulin G (IgG) dan kelas IgM terdeteksi pada populasi yang sehat, dengan titer mulai dari 1:64 sampai 1:256. Darah pada tali pusat juga mengandung antibodi, tetapi pada titer yang lebih rendah merupakan hasil transfer plasenta dari sistem peredaran darah ibu. Namun, tingkat antibodi yang sangat rendah pada neonatus, secara substansial akan meningkat seturut perkembangan usia, mungkin sebagai akibat dari paparan lingkungan terhadap Balamuthia mandrillaris dalam tanah. Namun, peran protektif antibodi terhadap BAE agak tidak jelas. Sebagai contoh, beberapa pasien BAE dilaporkan memiliki antibodi dengan titer tinggi namun tanpa respon protektif terhadap Balamuthia mandrillaris sehingga dapat mengakibatkan kematian. Hal ini terjadi karena Balamuthia mandrillaris memiliki kemampuan dalam menghindari respon imun humoral.